Hingga saat ini masih banyak orang-orang tua yang
menyebut kamera sebagai Kodak. Ya, hal tersebut adalah dampak dari kepopuleran
perusahaan Kodak pada masa lalu dalam dunia fotografi. Atau bahkan orang lebih
suka menyebut Roll film dengan kata Kodak, padahal ada banyak merek lain
seperti FujiFilm, Superia, Lucky, dan lain-lain. Seolah-olah Kodak adalah
perusahaan yang memonopoli peralatan fotografi pada masa lalu. Sayangnya Kodak
sejak tahun 2012 sudah menyatakan pailit dan produk-produknya saat ini hampir
tidak ada dipasaran kecuali produk second.
Sebelum menulas sejarah perusahaan Kodak dan mengenal berbagai produk
terlarisnya, perlu Anda ketahui bahwa Kodak memiliki nama panjang Eastman Kodak
Company. Kata Eastman diambil dari sang pendirinya yakni George Eastman,
seorang inovator asal Amerika Serikat yang mempopulerkan penggunaan Roll film
dalam dunia fotografi. Kodak sendiri bermarkas di Rochester, New York. Pada
abad ke 20 perusahaan ini sukses mendominasi dalam penjualan produk fotografi.
Bahkan pada tahun 1976 Kodak memiliki pangsa pasar 89% dari penjualan film
fotografi di Amerika Serikat. Produk-produknya tentu saja banyak beredar di
seluruh dunia termasuk Indonesia.
Sejarah singkat
Dengan berbekal dari penemuan film bergerak yang
digunakan oleh Thomas Alva Edison, George Eastman melakukan eksperimen dengan
film gulung untuk digunakan pada fotografi. Sukses dengan penemuannya, Eastman
akhirnya mendirikan perusahaan Kodak pada 1988 dan pada saat
itu perusahaan memiliki sebuah slogan yang sangat populer yakni “You press
the button, we do do the rest” (Anda menekan tombol, selanjutnya kami yang
akan mengerjakan). Tentu saja karena saat itu konsumen hanya cukup membeli Roll
film untuk dipasang pada kamera dan memotret. Proses pencucian dan percetakan
selanjutnya dilakukan oleh Kodak. Roll film buatan Kodak pada saat itu mampu
dipakai untuk pengambilan sampai 100 gambar dan untuk proses selanjutnya yakni
cuci cetak konsumen hanya perlu membayar 5 Dollar.
Kodak office
Kantor Kodak Pertama di inggris
yang terletak di Soho Square, London
Meskipun sangat populer dan mendominasi pasar
fotografi film, Kodak memiliki pesaing berat asal Jepang yakni FujiFilm.
Perusahaan ini memiliki strategi khusus untuk memasarkan produknya, yakni
dengan membanderolnya dengan harga lebih murah. Namun tetap saja oang Amerika
Serikat lebih menyukai menggunakan Kodak dibanding produk asing. Kesuksesan
FujiFilm ada dipasar Asia, termasuk Indonesia dan di Jepang sendiri. Namun
uniknya, pada sekitar tahun 1970-an Kodak dan FujiFilm sama-sama khawatir akan
ancaman dari teknologi fotografi digital. Terbukti saat ini Kodak sudah benar-benar
terpuruk dalam fotografi digital, sedangkan FujiFilm masih bertahan meski sudah
bukan yang terbaik.
Inovasi di teknologi digital
Sebenarnya Kodak sudah mengembangkan teknologi
kamera digital pada tahun 1975. Namun pengembangan ini justru dihentikan karena
Kodak khawatir akan mengancam bisnis film fotografinya. Sampai akhirnya ketika
teknologi digital sudah benar-benar hendak menguasai, pada 1990-an Kodak
merencanakan total untuk pindah ke teknologi digital. Sayangnya Kodak minim
inovasi sampai akhirnya banyak konsumen yang secara bertahap beralih ke
penawaran kamera digital dari perusahaan seperti Sony, Canon, Nikon dan
lain-lain. Parahnya lagi pada tahun 2001 penjualan film yang menurun disebabkan
oleh berbagai masalah keuangan ditambah juga oleh serangan 11 September. Pada
tahun 2001 Kodak dengan produk digital yang seadanya memang masih menempati
nomor 2 dalam penjualan produk fotografi digital belakang Sony. Namun mereka
harus rugi $ 60 USD pada setiap kamera yang dijual, diperburuk dengan adanya perselisihan
antara karyawan dari divisi digital dan filmnya. Pada divisi film, keuntungan
turun 18% pada tahun 2005.
Kodak camera innovation
Ilustrasi perkembangan Kamera
Kodak dari masa ke masa
Akhirnya pada tahun 2007 posisi Kodak turun dari
nomor 2 ke 4 dalam penjualan kamera digital di AS dengan pangsa 9,6 persen ,
dan pada tahun 2010 menempati posisi ketujuh di belakang Canon , Sony , Nikon
dan beberapa brand lain. 19 Januari 2012 Kodak resmi mengajukan Bab 11 mengenai
Perlindungan Kepailitan. Kodak EasyShare Z5010 dianggap sebagai kamera terakhir
Kodak sebelum pailit.
Produk digital Kodak
Bukannya sedikit, namun kamera digital Kodak
banyak yang merupakan gabungan dengan brand lain terutama untuk kelas
professional. Berikut daftarnya: Kodak DC220 Pro Edition, DCS 300 series,
DCS 400 series, DCS 500 series, DCS 600 series, DCS 700 series, DCS Pro Back,
DCS Pro 14n, DCS Pro SLR/n (lensa Nikon), DCS Pro SLR/c (lensa Canon EOS).
Kemudian dari seri Kodak EasyShare DX diantaranya adalah DX3215, DX3500, DX3600,
DX3700, DX3900, DX4330, DX4530 dan berbagai seri lain dan versi lain dari DC
series, CX series, LS series, C series, Z series, V series, P series, One
series, M series yang jumlahnya mencapai ratusan kamera. [ALX]

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK - Apakah Kodak cukup dengan
mengajukan perlindungan bangkrut? Ketika meminta perlindungan pada Kamis, para
eksekutif Eastman Kodak, mengatakan mereka ingin meniru jejak korporat AS yang
berhasil menemukan diri lagi setelah mengorganisir ulang dibawah supervisi pengadilan,
seperti United Airlines dan Chrysler.
CEO perusahaan yang sering dikritik, Antonio Perez, yang telah mencoba mengubah peruntungan Kodak sejak menjabat pada 2005, mengatakan kebangkrutan adalah langkah 'dalam transformasi menuju fondasi lebih kuat bagi Kodak di masa depan. "Yang diharapkan setiap orang adalah Kodak berbisnis seperti semua lagi,' ujarnya dalam pesan video.
CEO perusahaan yang sering dikritik, Antonio Perez, yang telah mencoba mengubah peruntungan Kodak sejak menjabat pada 2005, mengatakan kebangkrutan adalah langkah 'dalam transformasi menuju fondasi lebih kuat bagi Kodak di masa depan. "Yang diharapkan setiap orang adalah Kodak berbisnis seperti semua lagi,' ujarnya dalam pesan video.
Bagi pengamat ekonomi, bisnis seperti semula justru
masalah dalam Kodak. Mereka mempertanyakan bagaimana Kodak bisa bangkit dari kebangkrutan.
"Saya memperkirakan mereka akan memainkan semua kartu yang ada," ujar
guru besar hukum bisnis, Jay Lawrence Westbrook, dari Universitas Texas. Ia
memprediksi Kodak akan melikuidasi sebagain besar aset dan bertahan hanya yang
berpotensi menguntungkan.
Sementara pengamat yang memiliki rating penjualan
Kodak sejak 2001, Shannon Cross, berkata masalah utama Kodak adalah bisnis
intinya tak menghasilkan uang. Selama ini perusahaan hidup hanya dari
mengandalkan biaya lisensi dari properti intelektual.
"Bagi saya itu tak memberi kepastian sekaligus tak masuk akal bahwa lisensi sebagai beberapa potensi tertinggal akan menjadi satu-satunya pegangan perusahaan," ujarnya. "Sangat sedih melihat apa yang terjadi namun juga tak mengejutkan melihat bagaimana perusahaan itu dikelola."
"Bagi saya itu tak memberi kepastian sekaligus tak masuk akal bahwa lisensi sebagai beberapa potensi tertinggal akan menjadi satu-satunya pegangan perusahaan," ujarnya. "Sangat sedih melihat apa yang terjadi namun juga tak mengejutkan melihat bagaimana perusahaan itu dikelola."
Pendahulu Kodak, Eastman Dry Plate.Co, dibentuk
sebagai rekanan pada 1881 oleh George Eastman, dan menjadi salah satu raksasa
cip biru Amerika, sebuah perusahaan yang namanya sangat sinonim dengan
pengambilan foto dan kehadiran film dalam kotak kuning yang bisa ditemukan di
mana-mana. Namun perusahaan itu lambat merespon kompetisi dari bisnis film dari
Fujifilm Jepang yang berujung pada pemotongan harga produk.
Tak hanya itu, meski periset merekalah yang menemukan
kamera digital pertama kali pada 1975. Kodak lagi-lagi lambat menerima
fotografi digital mereka terus fokus pada pembuatan film. Akhirnya perusahaan
itu kembali dilibas pesaingnya.
Pada dengar pendapat Kamis petang, kuasa hukum
mewakili kreditur untuk Kodak mempertanyakan rencana manajemen yang ingin
meminjam 950 juta dolar agar perusahaan tetap mengapung meski dalam proses
kebangkrutan. Mereka tahu betul, perusahaan sudah menghanguskan 2 milyar dolar
dalam dua tahun terakhir ketika berupaya menemukan diri kembali.
"Dari prespektif kami, apa yang terjadi di masa lalu adalah prolog saat ini," ujar kuasa hukum para kreditur, Michael Stamer. "Mereka telah mengambil langkah yang kami yakini pembelanjaan ceroboh dan merusak hingga membawa berakhir sepert ini," ujarnya.
Hakim kasus perdata kebangkrutan federal, Allan Gropper, yang memantau kasus tersebut berkata, "Kodak adalah lembaga bisnis besar Amerika dan setiap kreditur di sini, saya yakin ingin menyaksikan perusahan ini segera keluar dari Pasal 11 sesegera mungkin dan kembali sejahtera. Pertanyaan hari ini adalah bagaimana mencapai itu dengan cepat dan sederhana.
Pada akhir dengar pendapat, Kodak memenangkan persetujuan sebesar 650 juta dari kucuran Citigrup. Tugas pertama Kodak bisa jadi ialah menjual paten yang memang sudah ingin dilepas. Meski pembeli mungkin cemas dan takut, penjualan yang diawasi pengadilan akan menjamin proteksi lebih besar terhadap pemalsuan dan klaim-klaim lain. Kuasa hukum Kodak memperkirakan paten-paten yang dimiliki Kodak memiliki nilai 2,2 hingga 2,6 milyar dolar.
Jika penjualan berhasil--dan bergantung pada seberapa banyak yang tersisa, Kodak akan meyakinkan pengadilan bahwa mereka kini telah memiliki rencana bisnis berpotensi hidup. Maklum karena selain hutang perusahaan, Kodak pun saat ini dihadapkan pada tanggungan uang pensiun dan kesejahteraan bagi karyawanannya sesuai standar Amerika.
"Dari prespektif kami, apa yang terjadi di masa lalu adalah prolog saat ini," ujar kuasa hukum para kreditur, Michael Stamer. "Mereka telah mengambil langkah yang kami yakini pembelanjaan ceroboh dan merusak hingga membawa berakhir sepert ini," ujarnya.
Hakim kasus perdata kebangkrutan federal, Allan Gropper, yang memantau kasus tersebut berkata, "Kodak adalah lembaga bisnis besar Amerika dan setiap kreditur di sini, saya yakin ingin menyaksikan perusahan ini segera keluar dari Pasal 11 sesegera mungkin dan kembali sejahtera. Pertanyaan hari ini adalah bagaimana mencapai itu dengan cepat dan sederhana.
Pada akhir dengar pendapat, Kodak memenangkan persetujuan sebesar 650 juta dari kucuran Citigrup. Tugas pertama Kodak bisa jadi ialah menjual paten yang memang sudah ingin dilepas. Meski pembeli mungkin cemas dan takut, penjualan yang diawasi pengadilan akan menjamin proteksi lebih besar terhadap pemalsuan dan klaim-klaim lain. Kuasa hukum Kodak memperkirakan paten-paten yang dimiliki Kodak memiliki nilai 2,2 hingga 2,6 milyar dolar.
Jika penjualan berhasil--dan bergantung pada seberapa banyak yang tersisa, Kodak akan meyakinkan pengadilan bahwa mereka kini telah memiliki rencana bisnis berpotensi hidup. Maklum karena selain hutang perusahaan, Kodak pun saat ini dihadapkan pada tanggungan uang pensiun dan kesejahteraan bagi karyawanannya sesuai standar Amerika.
Direktor manajer dari Conway Mackenzei, Lawrence
Perkins, sebuah lembaga restrukturisasi dan konsultasi keuangan, mengatakan
kebangkrutan bisa membuat Kodak kembali dengan awalan baru. Namun itu pun bukan
perkara mudah. "Ini akan menjadi proses sangat sulit," ujarnya.
"Seperti yang lain bisnis telah berevolusi dan sulit untuk mengubah
halauan sejarah yang sudah berdiri 130 tahun."
Sumber :
smh.com.au
Kodak 'Menyerah' di Bisnis Foto Digital
Rep: Mutia
Ramadhani/ Red: Hafidz Muftisany

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK --
Eastman Kodak, perusahaan yang identik dengan dunia fotografi, memutuskan
meninggalkan bisnis produksi kameral digital. Perusahaan yang telah 133 tahun
beroperasi ini juga mengakhiri produksi kamera video dan kertas foto digital.
Manajemen Kodak memutuskan akan
berkonsnetrasi pada divisi lain yang lebih menguntungkan. Misalnya percetakan
foto dan printer desktop inkjet. Perusahaan ini memutuskan memotong eksposure
usahanya akibat kerugian yang dideritanya beberapa waktu lalu.
"Ini sudah berdasarkan
analisis perusahaan tentang tren industri ke depannya," kata Presiden
sekaligus Direktur Pemasaran Kodak, Pradeep Jotwani, seperti dikutip dari
BBC, Senin (27/8). Total kerugian Kodak enam bulan pertama tahun
ini mencapai 665 juta dolar AS. Angka ini memberikan tekanan lebih lanjut pada
posisi keuangan perusahaan.
Kebangkrutan Kodak berawal sejak
kegagalan perusahaan menjual katalog paten pencitraan digital (digital imaging
patent) tahun lalu. Sejak itu, Kodak terus mengalami kekurangan uang tunai.
Meskipun, Kodak telah berusaha mengumpulkan dana tunai dengan menjual lebih
dari 1.100 paten pencitraan digital miliknya.
Lembaga investasi Amerika
Serikat, Lazard, akan membantu penjualan paten pencitraan digital dan kertas
foto digital milik Kodak. Apple dan Google, menurut laporan, telah membuat
tawaran singkat untuk memperebutkan pembelian paten tersebut. Kedua perusahaan
tersebut juga merupakan pesaing dan memiliki hubungan bisnis kurang baik sejak
2009 lalu.
Harga penawaran untuk portofolio
itu mencapai 500 juta dolar AS. Padahal, jumlah tersebut masih jauh dari
perkiraan Kodak, sekitar 2,6 miliar dolar AS.
Penyebab Kodak Bangkrut

Liputan6.com,
New York: Setelah Eastman Kodak Corporation dinyatakan pailit,
muncul beragam penelitian tentang penyebab kebangkrutan perusahaan pelopor film
fotografi tersebut.
Menurut sejumlah pengamat, seperti dikutip laman timesofindia.com, Senin (23/1), perusahaan pelopor fotografi tersebut tak sanggup melawan arus digital yang semakin berkembang setiap tahun. Tidak seperti IBM dan Xerox Corp, yang sukses menciptakan arus pendapatan baru saat bisnis mereka menurun.
Menurut sejumlah pengamat, seperti dikutip laman timesofindia.com, Senin (23/1), perusahaan pelopor fotografi tersebut tak sanggup melawan arus digital yang semakin berkembang setiap tahun. Tidak seperti IBM dan Xerox Corp, yang sukses menciptakan arus pendapatan baru saat bisnis mereka menurun.
Mereka menilai kesalahan Kodak
membuang proyek-proyek baru terlalu cepat yang menyebarkan investasi digital
terlalu luas, dan puas pada penilaian Rochester, New York, yang membutakan
perusahaan untuk berinovasi pada teknologi lain.
"Kodak sangat puas dengan
penilaiain Rochester dan tak pernah mengembangkan kehadiran teknologi baru di
pusat-pusat dunia," ujar Rosabeth Kanter, Profesor Administrasi Bisnis
Arbuckle di Harvard Business School. "Ini seperti mereka tinggal di museum,"
sindirnya.
Sejak 1888, George Eastman
menciptakan sebuah mesin yang menangkap gambar pada pelat kaca besar. Tak puas
dengan terobosan itu, dia melanjutkan untuk mengembangkan film roll dan
kemudian kamera Brownie. Selanjutnya pada 1960, Kodak mulai mempelajari potensi
komputer dan membuat terobosan besar di tahun 1975, saat salah satu insinyur,
Steve Sasson, menemukan kamera digital.
Namun, Kodak tak segera mencium
potensi pasar tersebut dan tak fokus pada high-end kamera bagi pasar niche.
Para eksekutif juga takut mengorbankan penjualan film initi mereka.
"Ketika (George Eastman)
meninggal, ia menyisakan pengaruh pada perusahaan, yang salah satunya Kodak
akan terus terikat dalam nostalgia," kata Nancy Westt, seorang profesor
yang menulis sejarah Kodak dari University of Missouri. "Nostalgia memang
indah, tapi itu tidak memungkinkan orang untuk bergerak maju." tandasnya.
Selain itu, penyebab kebangkrutan
Kodak karena perusahaan tersebut melewatkan peluang bisnis. Di Consumer
Electronics Show di Las Vegas tahunan pekan lalu, Perez dan Kodak
memperkenalkan dua kamera baru yang diyakini bisa terhubung secara nirkabel
dengan printer dan posting foto ke Facebook. Namun beberapa pengulas gadget
mengatakan kamera baru tidak bisa terhubung ke web tanpa membonceng pada smartphone
atau koneksi Wi-Fi.
"Orang tidak hanya tertarik
dengan fitur baru, kecuali sesuatu yang revolusioner, dan ini adalah fitur
tambahan,"ujar Suzanne Kantra, Editor Blog Teknologi Techlicious dan matan
Editor Teknologi Popular Science.
Analis mengatakan Kodak bisa
menjadi sebuah kelompok media sosial jika telah berhasil meyakinkan konsumen
untuk menggunakan layanan online untuk menyimpan, berbagi, dan mengedit
foto-foto mereka. Sebaliknya, Kodak berfokus terlalu banyak pada perangkat dan
kalah dalam pertempuran online untuk jaringan sosial seperti Facebook.(MEL)
Kebangkrutan Perusahaan Raksasa Bernama “Kodak”
April 14, 2012
Oleh : Jurianto, Khoirawati dan Dameria Sinaga
Tahun 90-an adalah tahun-tahun dimana perusahaan
Kodak sangat berjaya dengan produk kamera manual dan film seluloidnya. Maka tak
heran jika masa-masa ini disebut “Kodak Moment”. Kodak yang didirikan oleh
Goerge Eastman pada 1892 ini sejak awal mendirikan perusahaan yang memproduksi
kamera Analog. Bahkan kamera buatan perusahaan ini dalam sejarah tercatat
sebagai kamera yang digunakan oleh astronot pertama yang mendaratkan kakinya di
bulan Neil Amstrong untuk mempotret objek-objek di permukaan bulan pada tahun
1969. Dan 6 tahun kemudian kodak mulai memproduksi kamera digital. Artinya
perusahaan inilah yang pertama kali memproduksi kamera digital. Namun setelah
teknologi kamera digital mulai berkembang, kodak bukannya mengembangkan kamera
digitalnya, tapi kodak terus berpacu untuk memproduksi secara besar-besaran
kamera analognya yang memang saat itu menjadi andalan perusahaan ini. Justru
rivalnya seperti Casio, Nikon dan Canon mengembangkan produk kamera digital.
Perlahan namun pasti teknologi terus berkembang.
Perusahaan-perusahaan di Asia terus berkembang Casio dan Canon melihat bahwa
peluang pasar kamera digital sedikit demi sedikit terus meningkat. Oleh
karenanya perusahaan ini berfokus pada pengembangan kamera digital. Akhirnya
ketika dunia memasuki era kamera digital, Kodak kelabakan oleh terjangan
rivalnya dari Asia. Bisnis film kamera pun berakhir dan Kodak kesulitan
menghasilkan uang. Kamera digital generasi pertama mereka juga kurang diminati
karena miskin inovasi. Perkembangan media penyimpanan tidak diikuti oleh Kodak.
Penyebab kebangkrutan Kodak, antara lain adalah
ketidaksiapan perusahaan ini mengantisipasi trend perkembangan teknologi.
Inovasi teknologi yang lambat, sehingga tidak mampu bersaing dengan perusahaan
baru. Kodak juga terlambat membaca peluang bisnis di segmen kamera digital.
Kodak juga tidak berhasil menangkap peluang emas dengan kebesaran nama yang
dimilikinya untuk meraih pasar yang lebih luas. Kodak sebagai sebuah organisasi
seharusnya terus melakukan pembelajaran, dan meningkatkan kemampuan suatu
oraganisasi untuk terus menerus melakukan proses pembelajaran sehingga
organisasi tersebut memiliki kecepatan berfikir dan bertindak dalam merespon
perubahan yang muncul untuk menghadapi pesaing-pesaingnya.
Belajar dari Kebangkrutan Bisnis Kodak Corporation
14 Jan 2015 Hits : 2,934
Contoh perusahaan yang bangkrut yang diambil
disini adalah perusahaan Eastman Kodak Corporation. Setelah
Eastman Kodak Corporation tersebut dinyatakan pailit, banyak pihak yang
berusaha mencari tahu penyebab dari kebangkrutan perusahaan tersebut. Menurut
sejumlah pengamat, seperti dikutip laman timesofindia.com, perusahaan yang
merupakan perusahaan pelopor film fotografi tersebut tidak sanggup melawan arus
digital yang semakin berkembang setiap tahunnya. Tidak seperti IBM dan Xerox
Corp, yang sukses menciptakan arus pendapatan baru saat bisnis mereka menurun.
Mereka menilai kesalahan kodak membuang
proyek-proyek baru terlalu cepat yang menyebarkan investasi digital terlalu
luas, dan puas pada penilaian Rochester, New York, yang membutakan perusahaan
untuk berinovasi pada teknologi lain. Sejak 1888, George Eastman menciptakan
sebuah mesin yang menangkap gambar pada pelat kaca besar. Tak puas dengan
terobosan itu, dia melanjutkan untuk mengembangkan film roll dan kemudian
kamera Brownie. Selanjutnya pada 1960, Kodak mulai mempelajari potensi komputer
dan membuat terobosan besar di tahun 1975, saat salah satu insinyur, Steve
Sasson, menemukan kamera digital.
"Ketika (George Eastman) meninggal, ia
menyisakan pengaruh pada perusahaan, yang salah satunya Kodak akan terus
terikat dalam nostalgia," kata Nancy Westt, seorang profesor yang menulis
sejarah Kodak dari University of Missouri. "Nostalgia memang indah, tapi
itu tidak memungkinkan orang untuk bergerak maju." tandasnya.
Selain itu, penyebab kebangkrutan Kodak karena
perusahaan tersebut melewatkan peluang bisnis. Di Consumer Electronics Show di
Las Vegas tahunan pekan lalu, Perez dan Kodak memperkenalkan dua kamera baru
yang diyakini bisa terhubung secara nirkabel dengan printer dan posting foto ke
Facebook. Namun beberapa pengulas gadget mengatakan kamera baru tidak bisa
terhubung ke web tanpa membonceng pada smartphone atau koneksi Wi-Fi.
Dikatakan pula bahwa dalam beberapa tahun
terakhir, pimpinan perusahaan gagal memulihkan keuntungan tahunan. Kas yang
terus terkuras membuat Kodak kesulitan memenuhi kewajibannya terhadap karyawan
dan pensiunannya.
Setelah bertahun-tahun gagal mengikuti era
digital, Kodak mengajukan perlindungan pailit. Pemimpin perusahaan Kodak,
Antonio Perez menyebutkan, dewan direktur dan segenap tim manajemen meyakini
bahwa ini merupakan langkah penting dan tepat dilakukan, demi masa depan Kodak.
Ditambahkan Perez, tujuan mendaftarkan diri bangkrut tersebut diambil untuk
memaksimalkan nilai pemegang saham, termasuk para karyawan, pensiunan, dan
kreditor, serta pengurus dana pensiun.
Analis mengatakan Kodak bisa menjadi sebuah
kelompok media sosial jika telah berhasil meyakinkan konsumen untuk menggunakan
layanan online untuk menyimpan, berbagi, dan mengedit foto-foto mereka.
Sebaliknya, Kodak berfokus terlalu banyak pada perangkat dan kalah dalam
pertempuran online untuk jaringan sosial seperti Facebook. (bn)
Lika-Liku Bangkrutnya Kodak
Nurul Qomariyah -
detikfinance
Kamis, 19/01/2012 16:15 WIB

New York -'Kodak Moment'. Iklan itu sangat
hits di era tahun 1990-an, pada masa emas Eastman Kodak. Tapi masa kini bukan
lagi menjadi 'Kodak Moment'. Kerugian yang terus menerus membuat perusahaan
yang sudah berusia seabad itu akhirnya minta perlindungan kebangkrutan.
Kodak tak lagi bisa bersaing dengan kompetitornya yang menawarkan produk digital dengan kemajuan sangat pesat. Sejak tahun 2007, Kodak terus merugi. Bahkan nilai pasarnya merosot tajam menjadi hanya US$ 150 juta dibandingkan US$ 31 miliar 15 tahun silam.
Kodak tak lagi bisa bersaing dengan kompetitornya yang menawarkan produk digital dengan kemajuan sangat pesat. Sejak tahun 2007, Kodak terus merugi. Bahkan nilai pasarnya merosot tajam menjadi hanya US$ 150 juta dibandingkan US$ 31 miliar 15 tahun silam.
Inilah akhir dari kejayaan perusahaan tua Amerika itu. Kodak didirikan oleh George Eastman pada tahun 1892. Pria yang dropout dari SMA itu memulainya dengan membuat piringan fotografi. Untuk menjalankan bisnisnya, ia secara royal membeli mesin seken senilai US$ 125. Dalam 8 tahun, nama Kodak menjadi trademark dan perusahaan kemudian memperkenalkan kamera poket dan juga roll film, sekaligus mendominasi pasar. Eastman juga memperkenalkan 'Dividen Upah', dimana perusahaan akan membayar bonus kepada karyawan berdasarkan pendapatan.
Hampir seabad setelah Kodak berjalan, astronot Neil Amstrong menggunakan kamera Kodak seukuran kotak sepatu untuk mengambil foto pada tahun 1969. Hasil jepretan Neil, yang merupakan orang pertama kali menjejakkan kaki di bulan itu mendapat antusiasme yang sangat tinggi. Jumlah yang melihat lebih banyak ketimbang 80 film yang telah memenangkan "Best Picture' Oscar dan difoto dengan menggunakan Kodak. Itulah era kejayaan Kodak.
Enam tahun setelah perjalanan Armstrong itu, Kodak membuat kamera digital. Namun ukurannya dinilai lebih besar dari poket untuk fotografer amatir, apalagi pesaingnya seperti Canon, Casio dan Nikon menawarkan bentuk yang lebih baik.
Dan bukannya
mengembangkan kamera digital, Kodak hanya terdiam dan menghabiskan
bertahun-tahun melihat rivalnya mengambil pangsa pasar. Kodak tidak pernah
berinovasi untuk bisnis yang sangat ketat persaingannya.
Pada tahun
1994, Kodak memisahkan bisnis kimia, Eastman Chemical Co yang justru lebih
sukses. Namun kejatuhan Kodak mulai terlihat ketika pada September secara tidak
terduga mulai menarik US$ 160 juta dari jatah kredit, sehingga menimbulkan
kekhawatiran perusahaan kekurangan uang tunai.
Dari tahun ke tahun, kondisi Kodak terus memburuk. Spekulasi bangkrutnya Kodak sudah dimulai sejak tahun 2011 lalu, sebelum akhirnya perusahaan resmi membuat pengumuman pendaftaran kebangkrutan chapter 11 pada Kamis (19/1/2012).
"Setelah mempertimbangkan keuntungan Chapter 11 pada saat ini, Dewan Direksi dan seluruh tim manajemen senior secara bulat meyakini bahwa ini adalah langkah yang penting dan hal benar yang dilakukan untuk masa depan Kodak," ujar CEO Kodak Eastman, Antonio Perez seperti dikutip dari AFP.
Hingga akhir September, total aset Kodak sebesar US$ 5,1 miliar dengan kewajiban US$ 6,75 miliar. Pendaftaran Kebangkrutan dilakukan di Pengadilan Kebangkrutan AS di Distrik Bagian Selatan New York. Unit Non-AS yang tidak dimasukkan dalam perlindungan kebangkrutan akan terus membayar kewajiban pada pemasoknya.
Perlindungan kebangkrutan itu akan memberikan Kodak waktu untuk menemukan pembeli atas 1.100 paten digital, yang merupakan nilai kuncinya. Perlindungan ini juga memungkinkan mereka merampingkan bisnis sehingga tetap bisa membayar sekitar 19.000 karyawannya. Pada masa jayanya di era 1980-an, Kodak tercatat memiliki 145.000 pekerja.
Seperti dikutip dari Reuters, Kodak mengaku telah mendapatkan fasilitas pinjaman US$ 950 juta selama 18 bulan agar bisa tetap hidup. Kodak saat ini 'dikawal' oleh penasihat dari bank investasi Lazard Ltd yang telah membantu Kodak mendapatkan pembeli paten digitalnya. Penasihat lain adalah FTI Consulting Inc. Mereka diharapkan bisa membantu Kodak 'hidup' lagi menjadi perusahaan yang lebih ramping dan menguntungkan.
(qom/ang)
Kodak Jatuh Bangkrut
Kodak gagal beradaptasi dengan kemajuan teknologi kamera
digital dan ponsel pintar
Kamis, 19 Januari 2012 | 14:37 WIB
Oleh : Renne R.A Kawilarang
VIVAnews
- Eastman Kodak Co., atau dikenal dengan sebutan Kodak, dulu dikenal sebagai
salah satu perusahaan peralatan fotografi terkemuka di dunia. Kini, Kodak jatuh
bangkrut setelah gagal beradaptasi dengan kemajuan teknologi di tengah
populernya kamera digital dan ponsel pintar berfitur kamera.
Menurut kantor berita Reuters,
Kodak mengajukan perlindungan pailit ke Pengadilan di Kota New York pada Rabu
waktu setempat. Di AS, perusahaan yang jatuh bangkrut berhak mengajukan
perlindungan pailit ke pengadilan, sesuai peraturan yang dikenal sebagai
Chapter 11, agar tidak sampai dilikuidasi.
Selanjutnya pengadilan akan
menentukan apakah perusahaan yang bangkrut ini, sesuai kesepakatan dengan
pihak-pihak kreditur, bisa diselamatkan melalui penjualan aset atau
restrukturisasi korporat. "Dewan direktur dan seluruh tim senior manajemen
yakin bahwa ini adalah langkah yang diperlukan dan tindakan yang benar demi
masa depan Kodak," kata Ketua Dewan Direksi dan Ketua Eksekutif Korporat
Kodak, Antonio Perez. Untuk dapat bertahan, Kodak mengungkapkan telah mendapat
pinjaman berjangka 18 bulan dari Citigroup sebesar US$950 juta.
Didirikan 130 tahun lalu, perusahaan
Amerika itu pernah merajai industri peralatan fotografi - seperti penjualan
kamera dan film. Bahkan Kodak pula yang memperkenalkan teknologi kamera
digital.
Namun, teknologi itulah yang lambat laun menghantam bisnis Kodak, yang selama dekade 1980an hingga 1990an sudah merasa nyaman sebagai pemain nomor satu industri fotografi. Konsumen kini sudah meninggalkan pemakaian film - yang menjadi bisnis inti Kodak - dan sejumlah kompetitor mengembangkan produk kamera digital. Apalagi kini muncul teknologi ponsel pintar, yang dilengkapi dengan kamera beresolusi tinggi.
Namun, teknologi itulah yang lambat laun menghantam bisnis Kodak, yang selama dekade 1980an hingga 1990an sudah merasa nyaman sebagai pemain nomor satu industri fotografi. Konsumen kini sudah meninggalkan pemakaian film - yang menjadi bisnis inti Kodak - dan sejumlah kompetitor mengembangkan produk kamera digital. Apalagi kini muncul teknologi ponsel pintar, yang dilengkapi dengan kamera beresolusi tinggi.
Dalam beberapa tahun terakhir,
pendapatan Kodak pun terus menurun tajam. Dulu mempekerjakan lebih dari 60.000
orang di mancanegara, Kodak kini hanya memiliki sekitar 7.000 pekerja. Kalangan
media massa beberapa hari lalu sudah memperkirakan bahwa Kodak terancam jatuh
bangkrut.
Manajemen Kodak sempat menyatakan akan fokus ke industri percetakan dan produk konsumen lain. Namun strategi itu gagal. Kini, demi bertahan hidup, Kodak berupaya mengandalkan penjualan sekitar 1.100 hak paten teknologi produk fotografi. (eh)
Manajemen Kodak sempat menyatakan akan fokus ke industri percetakan dan produk konsumen lain. Namun strategi itu gagal. Kini, demi bertahan hidup, Kodak berupaya mengandalkan penjualan sekitar 1.100 hak paten teknologi produk fotografi. (eh)
Apa Alasan Kodak Sampai Bangkrut?
Semua pasti kenal dengan Kodak, sebuah merk kamera
paling terkenal didunia. Saking terkenalnya zaman dulu – saat saya masih kecil
– orang akan menyebut kamera dengan sebutan kodak, pak punya kodak? Bu, boleh
pinjam kodaknya untuk foto-foto acara besuk?
Setelah Eastman Kodak Corporation dinyatakan pailit,
muncul beragam penelitian tentang penyebab kebangkrutan perusahaan pelopor film
fotografi tersebut.
Dari hasil penelitian disebutkan bahwa salah satu
penyebab Kodak akhirnya gulung tikar adalah karena gagap beradaptasi dengan
kehadiran kamera digital. Padahal mereka sebenarnya sudah menciptakan kamera
digital berpuluh tahun lalu.
Sejak 1888, George Eastman menciptakan sebuah mesin
yang menangkap gambar pada pelat kaca besar. Tak puas dengan terobosan itu, dia
melanjutkan untuk mengembangkan film roll dan kemudian kamera Brownie.
Selanjutnya pada 1960, Kodak mulai mempelajari potensi komputer dan membuat
terobosan besar di tahun 1975, saat salah satu insinyur, Steve Sasson,
menemukan kamera digital. Kamera ini mampu menangkap gambar hitam putih dalam
resolusi 10.000 piksel.
Namun sayang, karena takut akan kanibalisasi membuat
penemuan mereka itu tidak ditindaklanjuti. “Mengapa kita harus mengkanibalisasi
diri kita sendiri?” demikian anggapan yang dilontarkan oleh pihak manajemen
seperti dilansir Thesundaily, Jumat (20/1/2012).
Selanjutnya pada tahun 1992, Don Strickland, mantan
Vice President pernah meminta untuk merilis kamera digital, namun juga tidak
mendapat ijin.
Akhirnya apa mau dikata, ketakutan akan ‘memakan’
produk sendiri ini akhirnya malah menyebabkan pendatang baru menghajar Kodak.
Di akhir tahun 90-an kamera digital dari berbagai vendor mulai meledak, sedang
Kodak sendiri masih berjalan di tempat.
Saat Kodak sadar akan kesalahan tersebut akhirnya
membuatnya mulai berbenah diri. Namun sayang, semua sudah terlambat bagi
perusahaan yang bermarkas di Rochester, New York ini. Mereka pun harus mengejar
ketertinggalannya namun kini diketahui, usaha tersebut gagal. Kiprah ratusan
tahun legenda di dunia fotografi kini harus ditutup selamanya.